Ada satu sumber pemborosan dalam operasional logistik yang sering luput dari perhatian, padahal dampaknya terhadap biaya sangat besar: empty miles, atau perjalanan kosong. Ini adalah kondisi ketika kendaraan menempuh perjalanan tanpa membawa muatan, misalnya truk yang kembali ke depot dalam keadaan kosong setelah mengantar barang.
Setiap kilometer yang ditempuh kendaraan kosong adalah biaya BBM, biaya tenaga kerja, dan keausan kendaraan yang dikeluarkan tanpa menghasilkan pendapatan apapun. Bagi bisnis logistik dengan banyak armada, akumulasi empty miles bisa menjadi kebocoran finansial yang signifikan. Artikel ini membahas penyebab empty miles dan strategi praktis untuk menguranginya.

Apa Itu Empty Miles dan Mengapa Mahal?
Empty miles adalah jarak yang ditempuh kendaraan tanpa muatan yang menghasilkan pendapatan. Skenario paling umum adalah perjalanan balik (backhaul) — truk mengantar barang ke tujuan, lalu kembali ke titik asal dalam keadaan kosong.
Biaya dari empty miles bersifat ganda. Pertama, ada biaya langsung: BBM yang terbakar, jam kerja driver yang terpakai, dan keausan kendaraan. Kedua, ada biaya peluang (opportunity cost): selama kendaraan menempuh perjalanan kosong, ia tidak tersedia untuk pekerjaan lain yang sebenarnya bisa menghasilkan pendapatan.
Dalam industri logistik dengan margin yang semakin tertekan, mengabaikan empty miles berarti membiarkan profitabilitas tergerus secara diam-diam.
Penyebab Utama Empty Miles
Perencanaan Rute yang Tidak Optimal
Penyebab paling umum adalah perencanaan rute yang dibuat tanpa mempertimbangkan perjalanan balik. Ketika fokus perencanaan hanya pada pengiriman keluar (outbound), tanpa memikirkan apakah ada muatan yang bisa diangkut saat kembali, perjalanan kosong menjadi tak terhindarkan.
Kurangnya Visibilitas Antar Order
Ketika order-order dikelola secara terpisah dan tidak terpusat, sulit untuk melihat peluang di mana satu armada bisa menangani beberapa pengiriman sekaligus dalam satu perjalanan yang efisien. Tanpa visibilitas terhadap keseluruhan order, peluang konsolidasi terlewatkan.
Ketiadaan Sistem untuk Mencocokkan Muatan
Mencocokkan muatan balik secara manual sangat sulit, terutama dengan volume tinggi. Tanpa sistem yang membantu, planner harus mengandalkan ingatan dan koordinasi manual yang rawan luput.
Pola Pengiriman yang Tidak Seimbang
Beberapa rute secara alami memiliki ketidakseimbangan banyak barang dikirim ke suatu wilayah, tapi sedikit barang yang perlu diangkut dari wilayah tersebut. Ketidakseimbangan struktural ini menciptakan empty miles yang sulit dihindari tanpa strategi khusus.
Strategi Mengurangi Empty Miles
Optimasi Rute yang Mempertimbangkan Perjalanan Balik
Perencanaan rute yang baik tidak berhenti pada pengiriman keluar. Sistem yang mempertimbangkan keseluruhan siklus perjalanan termasuk peluang muatan balik dapat secara signifikan mengurangi jarak tempuh kosong. Ini adalah area di mana Transport Management System memberikan nilai langsung.
Konsolidasi Pengiriman
Menggabungkan beberapa order yang searah atau berdekatan ke dalam satu perjalanan memaksimalkan utilisasi setiap armada. Daripada mengirim dua kendaraan setengah penuh ke arah yang sama, satu kendaraan penuh jauh lebih efisien.
Backhaul Matching
Untuk bisnis yang beroperasi antar kota, mencari muatan balik (backhaul), baik dari klien sendiri maupun melalui kerja sama dapat mengubah perjalanan kosong menjadi perjalanan yang menghasilkan. Sistem yang memberi visibilitas terhadap kebutuhan muatan di berbagai titik memudahkan pencocokan ini.
Analisis Data Rute Secara Berkala
Dengan mencatat dan menganalisis pola perjalanan, bisnis dapat mengidentifikasi rute mana yang paling banyak menghasilkan empty miles, lalu merancang strategi khusus untuk rute-rute tersebut. Data adalah fondasi dari perbaikan yang terukur.
Peran TMS dalam Mengurangi Empty Miles
Transport Management System membantu mengurangi empty miles melalui beberapa cara. Pertama, optimasi rute otomatis yang mempertimbangkan efisiensi keseluruhan, bukan hanya pengiriman keluar. Kedua, visibilitas terpusat terhadap semua order, yang membuka peluang konsolidasi dan pencocokan muatan. Ketiga, data historis perjalanan yang memungkinkan analisis dan perbaikan berkelanjutan.
Dengan kombinasi ini, bisnis logistik dapat secara sistematis menekan empty miles yang berarti penghematan BBM, peningkatan utilisasi armada, dan profitabilitas yang lebih sehat.
Kesimpulan
Empty miles adalah pemborosan yang sering tidak terlihat tapi nyata dampaknya. Setiap perjalanan kosong adalah biaya tanpa pendapatan dan dalam industri dengan margin tipis, ini adalah area yang tidak boleh diabaikan.
Mengurangi empty miles tidak membutuhkan perombakan total operasional, tapi membutuhkan perencanaan yang lebih cerdas dan visibilitas yang lebih baik. Nakoola TMS dirancang untuk membantu bisnis logistik mengoptimalkan rute dan memaksimalkan utilisasi armada. Jadwalkan demo gratis di nakoola.id/demo untuk melihat caranya.